Thursday, April 14, 2011

DOKTRIN GAK PENTING, YANG PENTING PERBUATANNYA

Oleh:Denny Teguh Sutandio

“tidak akan ada kesehatan rohani tanpa pengetahuan doktrin.”

(Prof. J. I. Packer, D.Phil., Mengenal Allah, hlm. 9)

“Doktrin gak penting, yang penting perbuatannya,” begitulah cetusan seorang Kristen yang “melayani Tuhan” di sebuah gereja kontemporer yang top di Surabaya. Kemudian orang itu berujar, “Apa gunanya berdebat theologi ini itu, tetapi tidak memiliki kasih.” Atau ada juga seorang mantan non-Kristen yang pernah berbakti di sebuah gereja Injili di Surabaya, kemudian akhirnya enggan berbakti kembali setelah ditipu oleh seroang majelis gereja lalu berujar, “Percuma ke gereja, yang penting itu berbuat baik.” Mengapa ada orang Kristen berujar demikian? Karena:

Pertama, dia suntuk mendengar debat theologi yang tidak kunjung habis. Harus disadari bahwa theologi tidak sesederhana yang kita kira, karena theologi khususnya theologi Kristen berangkat dari pengenalan dan penafsiran seseorang akan Alkitab. Di dalam sejarah gereja, ada banyak perbedaan theologi yang mengakibatkan perdebatan berkepanjangan, sehingga hal inilah yang mengakibatkan beberapa (atau mungkin banyak?) orang Kristen suntuk berdebat theologi, karena baginya itu membuang waktu. Lalu, tidak heran, ia mengeluarkan pernyataan, “yang penting itu kasih.”

Kedua, dia malas belajar doktrin. Alasan pertama masih bisa sedikit dimaklumi, namun alasan lain mengapa seseorang mengatakan, “Yang penting perbuatannya” adalah orang tersebut malas belajar doktrin apalagi membaca Alkitab dan buku-buku theologi. Kalaupun ia mau belajar Alkitab, ia hanya mau menimba ilmu di sebuah sekolah Alkitab awam yang mudah yang tidak perlu memeras otaknya. Tidak heran, dari mulut orang seperti inilah terlontar pernyataan, “Doktrin gak penting, yang penting perbuatannya.”

Sebenarnya, orang yang berkata, “Doktrin gak penting, yang penting perbuatannya” memiliki kelemahan yang tidak disadarinya, yaitu:

Pertama, kontradiksi yang aneh. Bagi saya, orang yang terus berkoar-koar, “Doktrin gak penting, yang penting perbuatannya” sebenarnya adalah orang yang benar-benar aneh dan konyol, mengapa? Karena dengan mengatakan hal tersebut, ia sedang mengeluarkan pernyataan doktrinal bahwa doktrin itu tidak penting. Dengan kata lain, sambil berkoar-koar, “Doktrin gak penting, …”, ia sedang menciptakan sebuah doktrin bahwa doktrin tidak penting. Perlu diketahui bahwa doktrin itu berarti ajaran. Makin berkoar-koar, makin terlihat betapa konyol orang itu. Terhadap orang yang berkoar-koar ini, mudah saja, abaikan perkataannya, mengapa? Bukankah menurutnya doktrin itu tidak penting dan apa yang dikatakannya itu pun sebuah doktrin, jadi buat apa ngurusin doktrin yang menganggap bahwa doktrin tidak penting? Ke laut aja dech…. WkwkwkJ

Kedua, ketidakkonsistenan. Coba cek perilaku dari orang yang berkoar-koar, “Doktrin gak penting, yang penting perbuatannya” atau “Percuma ke gereja, yang penting berbuat baik” atau sejenisnya, kebanyakan orang yang berkoar-koar hal tadi ternyata perilakunya juga tidak beres, bahkan beberapa orang dapat dikatakan kasar! Saya sudah membuktikan hal ini, sehingga saya bisa berkata demikian! Ada seorang mantan non-Kristen yang pernah berbakti di sebuah gereja Injili di Surabaya, namun tidak lagi berbakti lagi (karena ditipu oleh seorang majelis gereja), lalu dengan bangganya, dia berkata, “Percuma ke gereja, yang penting berbuat baik.”

Tahukah Anda bahwa orang yang SAMA juga adalah orang yang berkata kasar kepada ayah saya? Aneh memang, orang yang ngotot berkata bahwa yang penting berbuat baik adalah orang yang SAMA pula berkata kasar. Hal ini berarti bahwa orang yang berkata, “yang penting perbuatannya” sebenarnya hanya menutupi diri untuk tidak mau mengenal Kebenaran sejati dengan dalih bahwa yang penting perbuatannya.

Ketiga, menghina Kristus! Jika ada orang Kristen yang gemar berkata, “Doktrin gak penting, yang penting perbuatannya”, maka Ev. Jimmy Setiawan, M.T.S. di dalam komentarnya di BlackBerry Messenger (BBM) group berkata, “Kalau yang penting perbuatannya, maka ga perlu Kristus… Jadi orang Budhist saja, mungkin lebih bermoral… Orang atheis saja banyak yang humanis.” Dengan kata lain, orang yang berkata bahwa yang penting perbuatannya sedang menghina Kristus:

Pertama, orang yang berkata bahwa yang penting perbuatannya adalah orang yang sama akan berkata bahwa manusia diselamatkan dan dibenarkan melalui perbuatannya, maka tidak perlu Kristus mati disalib untuk menebus dosa manusia.

Kedua, orang yang berkata bahwa yang penting perbuatannya, ia sedang menghina Kristus, karena Kristus pun selain mengasihi manusia (menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dll) juga mengajarkan doktrin! Doa Bapa Kami dan Khotbah di Bukit adalah beberapa pengajaran-Nya yang berkuasa. Beranikah kita berkata bahwa doktrin yang Kristus ajarkan sendiri itu tidak penting?

Lalu, bagaimana sikap orang Kristen yang beres menanggapi pernyataan di atas?

Pertama, introspeksi diri. Orang Kristen yang beres di titik pertama tidak perlu emosional menghadapi pernyataan di atas, sebaliknya kita perlu mendengarkan pernyataan tersebut sambil mengintrospeksi diri apakah dirinya mencerminkan apa yang dikatakan orang Kristen pragmatis tadi. Secara umum, memang perlu diamini bahwa banyak orang Kristen khususnya theolog rajin berdebat theologi bahkan berselisih/berkelahi untuk urusan yang tidak terlalu penting.

Bahkan di dalam sejarah gereja, gereja Barat dan gereja Timur berpisah salah satu alasannya adalah perbedaan penggunaan jenggot di mana gereja Barat tidak mengharuskan pemimpin gerejanya berjenggot, sedangkan gereja Timur mengharuskan pemimpin gerejanya berjenggot! Hanya untuk alasan yang sangat sepele, kedua arus gereja utama dahulu sudah berkelahi dan tidak saling berinteraksi, meskipun baru-baru di abad XX, mereka pernah bersilaturahmi.

Secara khusus, banyak orang Kristen yang makin belajar theologi, makin rajin berdebat sini sana bahkan untuk urusan sepele, misalnya: makan, baptisan anak, dll. Selain itu, beberapa dari mereka juga merasa sok tahu dan susah ditegur, karena mereka merasa sudah mengerti theologi, filsafat, dll. Yang paling celaka adalah beberapa pendeta yang bergelar theologi, makin bergelar tinggi, makin sombong, enggan dikritik dengan beribu argumentasi “theologis”! Saya terus terang muak melihat orang Kristen yang gemar memakai ayat-ayat Alkitab dan kata-kata rohani untuk menutupi kesalahannya! Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita yang rajin belajar doktrin termasuk orang yang cepat menghakimi orang lain dengan theologi yang kita pelajari?

Kedua, tunjukkan bahwa doktrin itu penting. Setelah introspeksi diri, kita perlu mengatakan kepada orang Kristen pragmatis di atas bahwa doktrin itu penting. Mengapa? Karena: Pertama, doktrin Kristen merupakan dasar iman Kristen. Dengan belajar doktrin Kristen, kita makin mengerti apa keunikan sekaligus finalitas Kekristenan dari semua agama, filsafat, tradisi, dll, di mana hanya Kekristenan SAJA (yang berdasarkan Alkitab) adalah satu-satunya agama/iman yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara logika, sejarah, maupun hati nurani.

Beberapa doktrin dasar yang penting dalam iman Kristen: Allah Tritunggal, Kristus yang memiliki dua natur (Ilahi dan manusia), manusia diciptakan Allah, fakta dosa manusia, manusia ditebus dan diselamatkan dari dosa melalui anugerah Allah di dalam penebusan Kristus, dll. Makin mengerti doktrin hendaklah mengakibatkan kita makin rendah hati, bukan sombong! Kedua, doktrin Kristen yang benar merupakan dasar kita menguji suatu ajaran Kristen apakah sesuai dengan Alkitab atau tidak. Terlalu banyak orang menyebut diri “Kristen”, tetapi tidak beriman pada Allah Tritunggal atau mengakui Kristus hanya sekadar manusia/junjungan Allah (bukan Allah).

Nah, belajar doktrin Kristen mengakibatkan kita makin berwaspada dengan pengajaran palsu demikian. Meskipun pendeta tersohor sekalipun yang mengajarkan bahwa Allah itu bukan Tritunggal, maka orang Kristen yang beres HARUS menolak ajaran tersebut dan bukan malahan mengikutinya secara membabi buta hanya karena sang pendeta itu “terkenal”! Ketiga, doktrin Kristen sebagai dasar kehidupan rohani. Belajar doktrin Allah Tritunggal, ketidakbersalahan Alkitab, dll sebenarnya merupakan dasar penting bagi pertumbuhan rohani kita. Prof. J. I. Packer, D.Phil. dalam bukunya Mengenal Allah pernah berujar, “tidak akan ada kesehatan rohani tanpa pengetahuan doktrin.” (hlm. 9)

Misalnya, ketika kita belajar doktrin bahwa Allah itu adalah Pribadi Allah yang berdaulat, seharusnya doktrin ini bukan hanya mengisi pikiran kita untuk nantinya berdebat perbedaan Calvinisme dan Hiper-Calvinisme, dll, tetapi justru ini menjadi kekuatan dan penghiburan tersendiri bagi kita tatkala kita menghadapi penganiayaan, pemfitnahan, dll sekaligus menjadi jaminan kita hidup di dalam tangan-Nya yang berdaulat. Jika kita beriman pada Allah yang tidak berdaulat yang mudah mengubah keputusan-Nya atau paling konyol bukan pada Allah yang berpribadi, maka kita tidak akan mengerti makna hidup kita, karena apa/siapa yang kita imani (yang fana) tidak layak menopang hidup manusia yang fana!

Ketiga, berkomitmen untuk menjalankan apa yang kita telah pelajari. Setelah menunjukkan kepada orang Kristen pragmatis tersebut bahwa doktrin itu penting, maka tugas dan panggilan kita sebagai orang Kristen yang beres adalah berkomitmen untuk menjalankan apa yang telah kita pelajari. Doktrin bukan hanya dikonsumsi di pikiran saja, tetapi juga harus dijalankan, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak. 2:14-26). Mengutip perkataan Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M. dalam siaran eksposisi Yakobus di radio Suzana FM, menurut Yakobus, orang Kristen yang telah dilahirbarukan oleh Roh Kudus adalah orang Kristen yang mendengar Firman, menerima Firman tersebut dengan lemah lembut, dan tidak lupa untuk melakukannya (Yak. 1:19-25).

Memang tidak mudah menjalankan Firman, karena meskipun kita telah dilahirbarukan Roh Kudus, kita masih bisa berdosa karena ada natur kedagingan kita (meskipun dosa TIDAK lagi menguasai kita). Karena ini tidak mudah, tidak berarti itu tidak mungkin, mengapa? Karena Roh Kudus akan memimpin kita untuk menjalankan firman, sehingga kita dimampukan-Nya untuk memuliakan Allah. Biarlah kita dengan rendah hati siap dipimpin Roh Kudus untuk berusaha mematikan kedagingan kita dan taat mutlak pada firman, sehingga orang sekeliling kita tidak lagi berkata, “Doktrin gak penting, yang penting perbuatannya.” Dengan kata lain, kita yang sudah belajar banyak doktrin, tunjukkan itu sebagai teladan hidup dengan mengakui bahwa itu semua dapat terjadi karena anugerah-Nya.

Bagaimana dengan kita? Doktrin itu penting, namun doktrin yang penting itu hendaknya tidak bersarang di pikiran kita saja, tetapi juga di dalam hati dan kehidupan kita sehari-hari demi kemuliaan-Nya. Amin. Soli DEO Gloria.

Tuesday, January 25, 2011

KasihNya Mengubah Seorang Zakheus !

Ditulis oleh : Ev. Sonny Tjandra

Didalam Alkitab kita akan berjumpa dengan ragam kisah yang indah dan mengagumkan dan salah satunya adalah : Kisah si Zakheus. Dan sesungguhnya kisah-kisah yang dikedepankan oleh Aklkitab didalamnya sarat dengan pelajaran yang penting bagi kehidupan ini.

Dengan demikian, manakala seorang kristen menaruh perhatian akan ragam kisah tersebut, dia akan menimba kekayaan rohani yang besar. Kisah si Zakheus adalah kisah yang luarbiasa, dimana disini kehidupan Zakheus berubah secara total. Dengan perkataan lain, kisah Zakheus merupakan bukti konkrit dari kebenaran yang tercatat di II Kor.5:17 ‘Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang’. Jelas sekali, bahwa yang lama dan yang baru adalah dua hal yang berbeda.

Kehidupan dunia kerja Zakheus pada masa itu bukan merupakan dunia kerja yang di apresiasi oleh masyarakat yahudi (dia selaku kepala pemungut cukai) namun ternyata Zakheus menjadi sasaran perhatian Kristus. Zakheus dijumpai Kristus dan Kristus menyediakan diri untuk berkunjung kerumah huninya. Sesungguhnya Zakheus tidak pernah bermimpi untuk realita tersebut, sekalipun dia memiliki kerinduan besar untuk berjumpa dengan Kristus. Tetapi hari itu, Kristus menjumpainya dan berkunjung kerumahnya.

Kemudian sesuatu yang menakjubkan dilontarkan oleh Zakheus, Zakheus berkata : ‘Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat’. Satu pertanyaan, bagaimana mungkin pernyataan seperti demikian muncul dari seorang Zakheus, tetapi inilah faktanya.

Disini kita diperhadapkan adanya sesuatu yang besar sudah terjadi didalam kehidupannya. Kristus didalam kasihNya sudah berkenan untuk menyumpai Zakheus dan didalam kasihNya pula_Kristus mengubah kehidupan Zakheus untuk menjadi baru. KasihNya mengubah seorang Zakheus untuk memiliki hidup yang baru, hidup yang hidup dan pengharapan masa depannya sekarang menjadi jelas.

Zakheus sebagaimana sesama yang lain, tatkala mengatakan saya berubah, saya sudah berubah, saya sudah meninggalkan hidup yang lama, sesungguhnya sekalipun itu merupakan pernyataan jujur, namun perubahan yang dimaksudkan sesungguhnya adalah perubahan luar/lahiriah alias palsu.

Perubahan sejati akan dialami seseorang, manakala seseorang mengalami/menikmati datangnya kasih sejati, kasih Kristus. Kasih ini mempunyai kekuatan untuk mengubah seseorang dan menjadikan seseorang itu baru. Dan kasih Kristus ini akan terus mengawal kehidupannya hingga masuk kedalam kekekalan. Dalam menapaki kehidupan yang sarat dengan persoalan hidup, kasih Kristus memberikan kekuatan untuk menghadapinya.

Maka seorang kristen yang memahami ajaran kitab suci ini, dia akan menatap dan melangkah ditengah kehidupan ini dengan mantap. Kasih ini sanggup mengubahkan siapa saja, karena kasih ini lebih dalam dari kejatuhan seseorang, itu sebabnya setiap suami, setiap istri, setiap anak, setiap anggota gereja yang satu dan kudus harus nampak perubahan dalam hidupnya, sehingga kehidupannya mencerminkan seorang kristen yang baik. Dan berlandaskan kasih tesebut bukan saja merajut kebersamaan dengan sesama, sekaligus seorang kristen dimampukan untuk mengampuni dan mengasihi sesamanya dengan benar. Kiranya Allah menolong kita semua.

KasihNya Menguatkan kita !

Ditulis oleh : Ev. Sonny Tjandra

Dalam sebuah papan promosi ada tertulis : Life is Easy. Dan manakala kita menengok sekitar, ternyata mata kita bertemu dengan fenomena dari orang-orang yang menjalani kehidupan ini dengan senyum, dengan santai, dengan bernikmat makan dan minum, dengan tanpa beban dan sebagainya. Terlihat kehidupan ini mudah dijalani. Tetapi betulkah demikian?

Jikalau kita secara serius menzimak atau mencermati kehidupan tersebut, maka kesimpulan yang muncul adalah: bahwa kehidupan ini harus diperjuangkan. Jika hidup ini adalah perjuangan, maka sesungguhnya hidup ini bukanlah mudah, semudah membalik telapak tangan. Maka sewaktu melihat seseorang menjalani hidupnya dengan mewah, tanpa susah dan bersusah-susah, ini membuktikan bahwa kehidupan ini tidaklah mudah dan mereka yang hidup demikian sesungguhnya sedang mengampangkan hidup dan mengambil jalan pintas alias tidak mau susah dan sukar atau menghadapi pergumulan hidup. Dan orang-orang semacam demikian, adalah orang-orang yang tidak bertanggungjawab secara serius didalam melakoni kehidupan ini.

Didalam Alkitab, kita diperhadapkan dengan ragam pergumulan hidup dan tak jarang seseorang harus mengakhiri hidupnya dengan tragis. Coba perhatikan riwayat hidup si Simson. Perhatikan pula riwayat hidup si Yohanes Pembaptis. Cermati riwayat hidup Stefanus di Kisah Para Rasul. Atau coba telusuri riwayat hidup orang-orang percaya di abad pertama yang dicatat dalam Kisah Para Rasul. Bukankah mengambarkan dengan jelas, bahwasanya hidup ini tidaklah gampang. Secara sederhana, tatkala kita mendapati seseorang mengambil sikap bunuh diri, tatkala seseorang mengambil sikap yang sangat kontras terhadap persoalan yang dihadapinya, tatkala seseorang harus mengambil atau menanggung resiko dan seterusnya.

Bukankah semua fakta ini memberitahukan, bahwa kehidupan ini tidaklah mudah. Dan satu yang tak boleh kita abaikan atau lupakan, yakni bagaimana Kristus harus menapak Golgota dan harus berurusan dengan salib. Maka boleh dibilang bahwa hidup ini adalah perjuangan. Satu pertanyaan penting dimunculkan disini : Jika hidup yang ada adalah sarat dengan ragam soal dan tantangan, lalu apa yang menjadi kekuatan untuk menghadapi semua realita tersebut ?

Selaku seorang kristen, mari kembali pada Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi. Alkitab menyatakan didalam surat I Korintus 13, bahwasanya Kasih yang bersumber dari diri Allah sendiri, kasih inilah yang sanggup dan menyanggupkan seorang Kristen untuk tabah dan cakap didalam menyikapi dan menindak lanjuti secara benar akan realita kehidupan yang tidak ramah tersebut.

Ayat 4 -7 menyatakan: ‘ Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih itu tidak berkesudahan ! ‘

Inilah kasih yang bersumber dari Allah sang sumber kasih. Dan kasih inilah yang memampukan seseorang untuk menghadapi dengan berani akan realita kehidupan ini. Maka seorang kristen yang memahami dengan baik akan kebenaran ini, dia akan mempunyai keberanian dengan kekuatan kasih sejati bukan saja menghadapi realita hidup, tetapi juga menantang kehidupan ini untuk dikembalikan pada porsi yang seharusnya.

Jikalau kita mengatakan mengasihi Allah, maka kita harus membaca dan mempelajari Alkitab dan melaluinya kita dimengertikan tentang kekuatan dari kasih sejati. Kasih yang murah, itulah kasih yang palsu, jelas tak sanggup menghadapi kerasnya kehidupan ini. Sebaliknya kasih sejati memampukan secara benar seorang kristen menjalani hidup dan menghadapi tantangan kehidupan. Kiranya Allah menolong setiap kita.

Merespon Kasih Yang Mengasihi

Ditulis oleh Ev. Sonny Tjandra

Dalam kehidupan ini ada satu unsur yang harus ada dan sangat penting untuk diabaikan. Sebaliknya unsur tersebut harus mendapatkan kepeduliaan yang sangat. Apakah unsur tersebut? Jawabannya adalah Kasih.

Siapa orang di dalam dunia ini yang tidak butuh dan membutuhkan Kasih ? Sesungguhnya setiap orang membutuhkannya dan membutuhkan di_sepanjang hidupnya. Namun hal yang harus dimengerti, bahwasanya Kasih sejati harus kembali dan bersumber pada Allah. Alkitab mencatat dalam Surat Yohanes : God is Love !

Tetapi sayang seribu sayang, banyak manusia yang tak memahami akan Kasih ini. Sebaliknya memahami, nyata banyak manusia sedang berada dalam kisaran Kasih palsu. Dan berbahas Kasih sejati memang harus di respon.

Kasih Allah adalah Kasih sejati dan didalam kesejatian Kasih tersebut, Allah mengasihi dan terus mengasihi manusia serta semua ciptaanNya. Kasih seperti inilah yang dibutuhkan manusia. Dari sini, tatkala seorang Kristen secara serius mendalami kitab suci, maka dia akan membaca berkenaan dengan realita Kasih ini dan kemudian berusaha untuk meresponnya secara bertanggungjawab.

Semakin maju pemahaman seorang kristen akan Kasih sejati ini, maka dia akan semakin dimampukan untuk merespon secara bagus. Dan dari sinilah seorang kristen mengerti bahwa, dirinya adalah orang berdosa ( orang yang tak layak dikasihi, namun Allah mengasihinya ) sehingga dia akan berusaha mengasihi dan memberikan segalanya bagi Allah yang mengasihinya.

Perhatikan statement seorang William Booth: Satu kali, apa yang menjadi milik William Booth akan menjadi milik Allah! Dan kalimat tersebut diwujudkan dengan totalitas, itu sebabnya Allah sudah berkenan memakai hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang sampai hari ini.

Didalam sejarah gereja yang masih terus berlangsung hingga hari ini, maka kita boleh melihat pernyataan-pernyataan kasih yang dikedepankan oleh umat Allah. Bahkan tak jarang prilaku kasih ini mesti berbalas kebencian, kekasaran, kekejaman, bagaikan air susu dibalas dengan air tuba.

Tetapi justru disinilah kasih sejati itu dibuktikan. Sehingga kasih sejati bukan hanya berhenti di perkataan, namun sampai kepada perbuatan.

Seorang kristen yang merespon kasih Allah, dia sebenarnya sedang terus belajar mengenai kelimpahan kasih Allah dan ini sangat menolong didalam menimba pemahaman mengenai Kasih yang sejati. Dengan demikian diharapkan sepanjang hidup yang sisa dari seorang kristen akan diwarnai dengan warna kasih. Seorang kristen yang memahami akan Kasih sejati dia akan bersikap :

1. Belajar dan terus berusaha untuk mengasihi Allah dengan segenap hidup dan kehidupannya. Dan tentunya dia juga akan mengasihi sesamannya dengan serius, bukan dengan kasih yang ber_pamrih, tetapi dengan Kasih sejati.

2. Belajar dan terus berusaha untuk mengasihi pelayanan atau pekerjaan melalui Gereja_Nya. Dan tentunya dengan segenap anggota umat Allah menggarap kepercayaan yang diberikan.

3. Belajar dan terus berusaha untuk mengasihi tugas dan panggilan yang dia terima dari Allah. Dan tentunya dia akan menunaikan semua itu dengan kesungguhan.

4. Belajar dan terus berusaha untuk mengasihi ciptaan yang telah Allah ciptakan. Dan tentunya didalam kasih tersebut dia akan menyayang dan memeliharanya.

5. Belajar dan berusaha untuk mengasihi Allah_sekalipun dia harus membayar harga. Dan tentunya dia bersedia apa saja, sampai memberikan jiwa raganya.

Kiranya Allah menolong setiap kita didalam usaha untuk merespon KasihNya. Terpujilah Allah sekarang dan selamanya.

Wednesday, October 13, 2010

Hanya karena Iman !!

Ditulis oleh : Ev. Sonny Tjandra

Kekristenan adalah kekristenan. Dalam artian, kekristenan secara hakekat tidaklah sama dengan yang disebut agama. Agama adalah agama, dalam artian agama tidaklah sama dengan kekristenan, karena agama memang bukan kekristenan. Realita tersebut semakin menguat manakala kita mencermati Alkitab selaku Kebenaran satu-satunya, Kebenaran yang telah diwahyukan oleh sumber wahyu, yaitu Allah sendiri. Pendalaman akan wahyu khusus tersebut akan membawa kita melihat satu pernyataan yang indah dan kuat.

Apakah itu ? Yaitu pernyataan, bahwa melalui dan didalam Iman dan hanya Iman, maka seseorang boleh menikmati satu kebutuhan yang paling dibutuhkan, yaitu: Keselamatan. Keselamatan yang dimaksud adalah Keselamatan dunia akhirat, dengan kata lain adalah Keselamatan sejati, dimana manusia kembali kepada Allah, manusia menikmati Surga yang mulia. Fakta ini memberitahukan, bahwa manusia (tanpa kecuali) sebagai keturunan dari Adam yang berpasangan dengan Hawa, adalah manusia berdosa.

Dosa sudah mencemarkan sedemikian rupa keberadaan manusia, hingga manusia layak dan patut disebut manusia berdosa. Kenyataan tersebut menjadikan manusia tidak lagi berelasi dengan Allah Penciptanya secara baik. Relasi tersebut telah terputus. Dalam dosa manusia mengalami hidup yang kotor, rusak dan mati. Satu-satunya jalan keluar atau solusi satu-satunya, jikalau manusia kembali kepada Allah Sang Khalik. Kembali pada Allah, bukan melalu perbuatan atau amal baik, serta aktifitas jasa, tetapi melalui dan didalam Iman.

Hanya melalui Iman dan hanya Iman saja. Satu pertanyaan : Jikalau melalui Iman, Iman ini Iman kepada siapa ? Alkitab menjawab : Iman kepada Kristus Yesus ! Iman kepada Kristus Yesus inilah yang mengesahkan seseorang untuk menikmati Keselamatan. Perhatikan catatan Yohanes 3 ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal’ Hanya beriman kepada Anak yang tunggal, inilah Kristus Yesus, maka seseorang memperoleh hidup yang kekal/keselamatan. Dengan beriman kepada Kristus Yesus, maka seorang kristen bukan saja menikmati hidup kekal/keselamatan, namun dari sinilah perjalanan seorang beriman dimulai.

Dengan perkataan lain, selama ini yang disebut Iman, bukanlah Iman yang sejati yang merujuk pada Anak DombaAllah. Bahkan selama ini yang disebut Iman, ternyata merupakan sebuah keyakinan akan yang diyakini. Itu sebabnya dapat dimengerti, jika seseorang mengatakan : sekarang saya pindah agama, pindah kepercayaan dan semua ini adalah hak saya, dstnya. Inilah fenomena pindah keyakinan sampai satu saat dimampukan untuk mengedepankan Iman yang sejati yang bermuara pada Kristus Yesus.

Maka melihat realita akan kebutuhan manusia yang paling dibutuhakan, ternyata kita diperhadapkan kepada fakta: Adanya Iman dan adanya Keyakinan. Adanya agama perbuatan dan adanya ‘agama’ Iman! Tetapi jika seseorang berkata: Bahwa semua adalah Iman, maka sesungguhnya Iman seorang kristen dengan yang lain adalah tidak sama alias berbeda sekali. Namun bersama hidup bersama dalam satu atap Indonesia atau dalam satu atap bumi yang semakin panas ini, maka harus saling menghargai atau mengemukakan toleransi yang baik. Bukankah Alkitab mengajarkan: Kasihilah sesamamu manusia.

Paulus tepat jika mengatakan dan ini hanya bagi yang beriman pada Kristus Yesus ‘Orang benar akan hidup oleh Iman’ (Rom1/17). Jikalau seseorang beriman pada Kristus Yesus, maka hari-harinya adalah hari-hari yang dijalani dengan Iman. Dari Iman kepada Iman. Mungkinkah seseorang beriman pada Kristus Yesus ?

Ini adalah pertanyaan penting. Jawaban: Mungkin, jika Allah memungkinkan. Berarti, seseorang ketika mampu mengedepankan Imannya, hanya jika Allah beranugerah. Ini benar, maka seorang Luther dalam pemahamannya akan Pembenaran hanya oleh karena Iman/Justification by faith mengatakan : Iman seratus persen adalah anugerah dan pekerjaan Allah dalam hidup manusia. Berbahagialah saudara, jkalau Allah menganugerahkan Iman kepadamu.